Masinis Terakhir

Nopember 9th, 2011 by fajarnugros

masinis di kabin lokomotif

Pagi itu aku terbangun karena adzan subuh. Seperti biasa aku mendengar suara orang mandi sambil bersiul. Siulan bapakku menyanyikan lagu Koes Plus. Walau terkantuk, aku masih bisa menebak lagu apa yang bapak siulkan..

‘telah lama, telah lama, kau kutunggu..’

Tanpa sadar, aku ikut bernyanyi dalam hati, walau mata masih memejam. Rumah kami kecil, rumah dinas pegawai negeri rendahan. Rumah satu dengan lainnya saling berhimpitan, berdinding bambu yang dianyam, biasa disebut gedhek. Jadi jangankan siulan orang mandi, pasangan suami istri berbisik mesra pun kedengaran tetangga.

‘bersamamu, bersamamu, kuselalu..’

Itu lagu Koes Plus masih terdengar, terkadang diiringi suara ceburan air gayung. Lambat laun, siulan itu seperti meninabobokanku lagi.

‘ku tak mau, ku tak mau, hanya mimpi..’

Itu lagu Koes Plus berjudul Kembali.

*

Mestinya, usai mendengar adzan subuh lalu siulan bapak, aku bangun dan mengambil wudhu. Tapi ternyata tidak. Aku malah terpejam lagi, sampai aku mendengar suara ibu yang setengah berteriak.

“Bapak mau kemana?” terdengar suara ibu. Tak ada jawaban dari bapak. “Kenapa bapak pakai seragam itu?”

Kini mataku terbuka dua-duanya. Aku bangun dari ranjang, lalu keluar kamar dan menuju dapur. Bapak tampak tengah menyeruput teh tubruknya, sedang ibu berdiri diujung meja makan seraya menggenggam erat kain serbet kotor. Kulihat bapak sudah rapi, rambut hitam dengan uban tipis tersisir rapi, bapak memakai seragam kebesarannya berwarna biru tua dengan logo kereta api didada kiri. Seragam masinisnya. Tak ada yang salah dengan pemandangan itu, tapi kenapa ibu bertanya padanya seperti tadi?

“Bapak..” kata ibu lagi, kali ini suaranya rendah. Bapak masih tak menoleh. “Kenapa bapak pakai seragam itu lagi?” lanjut ibu. Aku memandang kearah ibu, kulihat matanya berkaca-kaca. Bapak menyeruput teh hangatnya lagi. Lalu bangkit dan berlalu pergi. Lalu terdengar suara standar sepeda jengki dilepas, kemudian suara kayuhan sepeda, bapak pergi berangkat kerja.

“Kenapa ibu bertanya seperti itu?” tanyaku. Ibu menatapku tajam.

“Makanya kamu jangan pergi-pergi terus,” kata ibuku seraya berlalu ke depan kompor. “Sekali-sekali peduli sama keadaan rumah.” lanjutnya. “Ini hari pertama bapakmu pensiun.”

‘hari ini, hari ini, kau kembali..’

*

Halo dunia!

Nopember 22nd, 2010 by fajarnugros

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!